Assalamu’alaikum… Bulan ini nilai tukar mata uang dunia terhadap dollar Amerika sedang melemah, termasuk rupiah yang sudah menembus 14.000 untuk satu dollarnya. Namun tahukah anda fakta dibalik menguatnya nilai tukar mata uang dollar terhadap rupiah? Kalau begitu simaklah artikel berikut ini…
1. Menguatnya perekonomian Amerika Serikat.
Tahun 2008 silam, Amerika Serikat sedang mengalami krisis ekonomi yang kemudian memaksa The Fed (Bank Sentral Amerika) untuk melakukan kebijakan Quantitative Easing, dimana mereka membeli obligasi ( surat utang jangka menengah-panjang) sehingga dollar mengalir ke pasar emerging market dan nilai tukar dollar melemah terhadap mata uang dunia. Setelah ekonomi Amerika membaik, mereka memangkas obligasi tersebut dengan menjualnya kembali, sehingga dollar ditarik kembali ke negara asalnya. Karena dollar yang tersisa di dunia sedikit, namun kebutuhan nilai tukar dollar yang terlanjur tinggi menyebabkan nilai tukar mata uang dunia gantian yang melemah.
2. Harga komoditi yang terus menurun
Melemahnya mata uang dunia terhadap dollar AS menyebabkan permintaan komoditas ekspor menjadi turun, sehingga harga komoditas andalan pun anjlok yang kemudian mempengaruhi ketidak seimbangan neraca perdagangan dan berakibat pada melemahnya nilai tukar rupiah.
3. Kinerja ekspor yang turun sedangkan kinerja impor naik.
Tahun ini Indonesia sedang dilanda kekeringan panjang akibat El Nino. Hal ini menyebabkan banya ladang gagal panen dan kebutuhan pangan pun tidak bisa terpenuhi. Hal ini mengakibatkan Indonesia sulit untu bisa ekspor bahan pangan, dan sebaliknya, memaksa Indonesia untuk impor bahan pangan dari luar negeri. Tentu hal ini berakibat pada melemahnya nilai tukar rupiah.
4. Bukan sepenuhnya kesalahan pemerintahan Jokowi.
Sejak tiga tahun lalu, Indonesia telah mengalami pelemahan mata uang terhadap dollar. Selain dipengaruhi menguatnya ekonomi Amerika, faktor internal pun juga ikut andil. Pelemahan ini juga disebabkan defisit transaksi berjalan yang mulai terjadi sejak 2012. Meskipun pemerintahan SBY sudah berusaha maksimal, masih saja belum bisa membalik defisit neraca transaksi berjalan menjadi surplus.
5. Cadangan devisa Indonesia masih aman.
Penguatan nilai tukar dollar AS membuat sejumlah negara melakukan intervensi valas ke pasar domestik. Ketika Bank Sentral Rusia menguras cadangan devisanya untuk membeli dollar AS dengan harapan dapat mempertahankan nilai tukar Rubel, justru Bank Indonesia menahan diri sehingga cadangan devisa negara tetap aman, meskipun dampaknya nilai tukar rupiah terus melemah.