Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW memiliki 13 istri, dan diantaranya disebutkan juga telah diceraikan sebelum beliau wafat. Selain istri, beliau juga memiliki dua orang budak atau pembantu.

Istri Nabi Muhammad SAW mendapat julukan sebagai Ummahatul Mu’minin, dalam bahasa Indonesia artinya adalah ibu para orang-orang mukmin. Rasulullah SAW memiliki istri dengan tujuan berdakwah, menjalankan syariat, dan menjalani kehidupan sosial. Tidak semata-mata untuk memenuhi keinginan dan nafsu duniawi saja. Oleh karena itu, baik dalam kehidupan duniawi maupun akhirat, layaknya kita mencontoh ibu kandung kita sendiri, kita juga selaknya mencontoh dan meneladani para wanita pilihan yang mendampingi Nabi Muhammad SAW.

Berdasarkan Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Ibnu Hisyam mengatakan bahwa dari yang telah diceritakan kepadanya dari Ahli Ilmu bukan hanya dari seorang saja, semua istri Rasulullah SAW ada 13 orang. Dan diantara mereka, istri-istri Rasulullah SAW ketika beliau wafat berjumlah 9 orang, yaitu :

  1. ‘Aisyah binti Abu Bakar,
  2. Hafshah binti ‘Umar bin Al-Khaththab,
  3. Ummu Habibah binti Abu Sufyan bin Harb,
  4. Ummu Salamah binti Abu Umayyah bin Mughirah
  5. Saudah binti Zam’ah bin Qais,
  6. Zainab binti Jahsy bin Riaab,
  7. Maimunah binti Al-Harits bin Hazm,
  8. Juwairiyah binti Al-Harits bin Abu Dliraar,
  9. Shafiyah binti Huyaiy bin Akhthab.

[Sirah Ibnu Hisyam juz 6, hal. 56]

Sebagai pembelajaran untuk kita semua, mari kita pelajari kisah-kisah dari setiap istri Rasulullah SAW berikut ini.

Khadijah binti Khuwailid

Khadijah binti Khuwailid adalah istri Rasulullah SAW yang pertama, yang menikahkan beliau dengannya adalah Khuwailid bin Asad. Dalam riwayat lain dikatakan yang menikahkannya adalah saudara laki-laki Khadijah yang bernama ‘Amr bin Khuwailid. Rasulullah menikahi Khadijah saat berusia 25 tahun dan Khadijah berusia 40 tahun. Rasulullah SAW memberikan mahar kepadanya sebanyak dua puluh ekor unta yang masih muda. Semua putra Rasulullah SAW lahir dari Khadijah, kecuali Ibrahim.

Sebelumnya Khadijah adalah janda Abu Haalah bin Malik, salah seorang Bani Usayyid bin ‘Amr bin Tamim, halifnya Bani Abdul Daar. Dengan Abu Haalah, Khadijah mempunyai 2 anak, yaitu Hindun bin Abu Haalah dan Zainab binti Abu Haalah. Sebelum menikah dengan Abu Haalah, Khadijah adalah janda ‘Utayyiq bin ‘Aabid bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum. Dengan ‘Utayyiq Khadijah melahirkan 2 anak, yaitu ‘Abdulah dan Jaariyah.

‘Aisyah binti Abu Bakar

Rasulullah SAW menikah dengan ‘Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiiq di Makkah pada tahun 2 Sebelum Hijriyah. ‘Aisyah merupakan istri ketiga Rasulullah SAW. Pada waktu itu ‘Aisyah baru berumur 7 tahun, dan Nabi SAW serumah dengan ‘Aisyah ketika di Madinah, pada waktu itu dia berumur 9 tahun atau 10 tahun. Dan Rasulullah SAW tidak menikah dengan perawan selain dengan ‘Aisyah. Yang menikahkan Nabi SAW dengan ‘Aisyah adalah ayah ‘Aisyah, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiiq. Dan Rasulullah SAW memberi mahar kepadanya sebanyak empat ratus dirham.

Dalam riwayat Sirath Nabawiyah seperti di atas ‘Aisyah ketika menikah berumur 7 tahun, sedangkan menurut pengakuan ‘Aisyah sendiri sebagaimana riwayat Bukhari dan Muslim, ia menikah pada umur 6 tahun. Ini bisa dipahami bahwa ‘Aisyah ketikan menikah berumur antara 6 – 7 tahun, begitu pula ketika serumah dengan Nabi SAW ia berumur antara 9 – 10 tahun.

Di antara istri-istri Rasulullah, ‘Aisyah meriwayatkan hadits paling banyak. Jumlah hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah mencapai 2000 hadits lebih. ‘Aisyah memiliki berbagai macam keistimewaan, diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih nya, dari Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah SAW bersabda, “Lelaki yang sempurna jumlahnya banyak. Dan tidak ada wanita yang sempurna selain ‎Maryam bintu Imran dan Asiyah istri Firaun. Dan keutamaan Aisyah dibandingkan ‎wanita lainnya, sebagaimana keutamaan bubur dibandingkan makanan lainnya.” ‎‎[HR. Bukhari 5418 dan Muslim 2431]

‘Aisyah wafat pada Selasa, 17 Ramadhan 58 H, riwayat lain menyebutkan tahun 57 H. Beliau wafat pada usia 66 tahun, setelah melaksanakan shalat witir. Shalat jenazah dipimpin oleh Abu Hurairah kemudian beliau dimakamkan di Pemakaman Baqi’

Pelajari lebih lanjut tentang dasar ibadah shalat lail dalam Dalil Pelaksanaan Shalat Lail

Saudah binti Zam’ah bin Qais

Rasulullah SAW menikahi Saudah binti Zam’ah bin Qais bin ‘Abdu Syamsin bin ‘Abdu Wudd bin Nashr bin Maalik bin Hislin bin ‘Aamiir bin Huyaiy pada tahun ke-10 kenabian atau tahun ke-3 SH. Yang menikahkan beliau dengannya adalah Saliith bin ‘Amr. Ada yang mengatakan yang menikahkan adalah Abu Haatib bin ‘Amr bin ‘Abdi Syamsin bin ‘Abdu Wudd bin Nashr bin Maalik Hislin. Saudah adalah istri kedua Rasulullah, beliau menikah dengan Saudah satu tahun setelah KHadijah wafat. Rasulullah SAW memberikan mahar kepadanya empat ratus dirham.

Sebelumnya Saudah adalah janda Sakraan bin ‘Amr bin ‘Abdi Samsin bin ‘Abdu Wudd bin Nashr bin Hislin. Saat masih menjadi suami istri, Saudah dan Sakran memeluk Islam dan kemudian berhijrah ke Habasyah bersama rombongan sahabat lainnya. Ketika sudah tiba dari Habasyah maka Sakran jatuh sakit dan meninggal.

Zainab binti Jahsy bin Riaab

Rasulullah SAW menikahi Zainab binti Jahsy bin Riaab Al-Asdiyah pada tahun 5 Hujriyah. Yang menikahkan beliau dengannya adalah saudara laki-lakinya yang bernama Abu Ahmad bin Jahsy. Rasulullah SAW memberikan mahar kepadanya empat ratus dirham.

Sebelumnya ia adalah janda Zaid bin Haritsah, bekas budak Rasulullah SAW. Pernikahan Zainab ra dengan Zaid bin Haritsah merupakan anjuran Rasulullah SAW demi mendobrak sistem kesenjangan sosial yang ada pada jamannya. Namun, seiring berjalannya waktu, rumah tangga mereka tidak harmonis. Zainab adalah seorang wanita yang merasa terhormat dan sedikit bersikap sombong terhadap Zaid. Merasa tidak bahagia bersama Zainab, akhirnya Zaid meminta ijin Rasulullah SAW untuk menceraikan istrinya.

Berkenaan dengan itu, Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa menurunkan ayat “Falammaa qodloo Zaidun minhaa wathoron zawwadnaakahaa (Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia)” [Al-Ahzaab : 37]. Sehingga Rasulullah SAW mengijinkan Zaid menceraikan istrinya dan pada kemudian hari Rasulullah SAW menikah dengan Zainab berdasarkan perintah ayat tersebut.

Zainab wafat diusianya yang ke-53, dan jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum Baqi’, Madinah. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa sebelum meninggal, Zainab berpesan agar jenazahnya dibawa ke pemakaman dengan ditandu (keranda) yang tertutup. Hingga sebagian sejarawan mencatatnya sebagai wanita pertama yang jenazahnya ditandu seperti yang ada hingga saat ini.

Ummu Salamah binti Abu Umayyah bin Mughirah

Rasulullah SAW menikahi Ummu Salamah binti Abu Umayyah bin Mughirah Al-Makhzumiyyah pada bulan Syawal tahun 2 Hijriyah. Nama aslinya adalah Hindun, yang menikahkan Rasulullah SAW dengannya adalah Salamah bin Abu Salamah, yaitu anak- laki-lakinya. Rasulullah SAW memberikan mahar kepadanya berupa kasur berisi serabut, bejana, hamparan, dan gilingan gandum.

Sebelumnya ia adalah janda Abu Salamah bin ‘Abdul Asad, yang nama aslinya adalah ‘Abdullah. Dengannya ia mempunyai anak bernama Salamah, ‘Umar, Zainab, dan Ruqayah. Abu Salamah meninggal sebagai syuhada’ dalam perang Badar. Sebelum meninggal, Abu Salamah pernah berdoa kepada Allah SWT : “Ya Allah setelah aku wafat, berikanlah rizqi Ummu Salamah seorang laki-laki yang lebih baik dariku, yang tidak pernah membuatnya sedih dan menyakitinya.

Dikemudian hari setelah Ummu Salamah menyelesaikan iddahnya, sahabat Nabi Abu Bakar mendatanginya dan bermaksud melamarnya. Namun, lamaran tersebut ditolak oleh Ummu Salamah. Umar juga bermaksud untuk melamarnya, tetapi juga ditolak oleh Ummu Salamah. Kemudian Rasulullah SAW mendatangi Ummu Salamah dan melamarnya. Lamaran tersebut selanjutnya diterima oleh Ummu Salamah.

Ummu Salamah merupakan seorang periwayat hadist dan ahli fiqh yang luar biasa. Beliau telah meriwayatkan lebih dari 300 hadits Rasulullah kepada murid-murid yang dibimbingnya. Beliau juga merupakan istri Rasulullah yang terakhir meninggal dunia. Beliau meninggal di usia 90 tahun pada tahun 61 Hijriyah pada masa kepemimpinan Khalifah Yazid bin Muawiyyah.

Hafshah binti Umar bin Al-Khaththab

Rasulullah SAW menikahi Hafshah binti ‘Umar bin Al-Khaththab. Yang menikahkan beliau dengannya adalah ayahnya sendiri ‘Umar bin Al-Khaththab. Rasulullah SAW memberikan mahar empat ratus dirham.

Ia sebelumnya adalah janda Khunais bin Hudzaafah. Khunais wafat sebagai syuhada’ dalam perang Badar tahun 2 Hijriyah. Setelah ditinggal Khunais, ayahnya Umar mencoba mencarikan pasangan untuk putrinya. Beliau mendatangi Usman dan Abu-Bakar, namun mereka belum bersedia untuk menikah kembali. Hingga suatu ketika Rasulullah datang melamar dan menikahi Hafshah pada tahun 3 Hijriah.

Karena kemuliaan hati dan kepandaiannya dalam membaca dan menulis, Abu Bakar mempercayakan lembaran-lembaran mushaf Al-Quran yang telah ia kumpulkan. Hafshah menjadi rujukan bagi sebagian besar sahabat dalam bidang ilmu hadits dan ibadah.

Hafshah meninggal dunia pada usia 60 tahun, tepatnya pada tahun 45 Hijriyah. Ia dimakamkan di Baqi pada masa pemerintahan khalifah Abdul Marwan bin Hakam.

Ummu Habibah binti Abu Sufyan bin Harb

Rasulullah SAW menikahi Ummu Habibah pada tahun 6 Hijriyah. Nama aslinya adalah Romlah binti Abu Sufyan bin Harb. Yang menikahkan beliau dengannya adalah Khalid bin Sa’id bin Al-‘Ash dan Raja Najasyiy. Pada waktu itu mereka berada di bumi Habasyah, Raja Najasyiy memberikan mahar kepadanya atas nama Rasulullah SAW empat ratus dinar.

Sebelumnya beliau adalah janda ‘Ubaidillah bin Jahsy Al-Asadiy. ‘Ubaidillah bersama Ummu Habibah memeluk Islam dan ikut hijrah menuju Habasyah. Sesampainya disana ‘Ubaidillah menemukan keyakinannya sebagai sebagai seorang Nasrani sehingga dia menjadi murtad.

Juwairiyah binti Al-Haarits bin Abu Dliraar

Rasulullah SAW menikahi Juwairiyah binti Al-Haarits bin Abu Dliraar Al-Khuza’ah pada bulan Sya’ban tahun 6 Hijriyah. Ia adalah salah satu diantara tawanan perang Bani Musthaliq dari suku Khuza’ah. Waktu itu ia jatuh pada bagian Tsabit bin Qais bin Syammas Al-Anshariy, lalu dia akan memerdekakannya apabila Juwairiyah bisa menebus dirinya.

Kemudian Juwairiyah datang kepada Rasulullah SAW mohon bantuan kepada beliau untuk menebus dirinya, lalu beliau bersabda kepadanya : “Maukah kamu kepada yang lebih baik dari pada itu?”. Ia balik bertanya: “Apa itu?”. Nabi SAW bersabda: “Aku menebus dirimu, lalu aku menikahimu?”. Juwairiyah menjawab: “Ya, mau”. Lalu Rasulullah menikahinya.

Dalam riwayat lain yang masih diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam, Rasulullah menyerahkan Juwairiyah kepada seorang laki-laki dari Anshar sebagai titipan dan diminta untuk menjaganya. Setelah tiba di Madinah, ayah Juwairiyah datang membawa tebusan untuk menebus anak perempuannya.

Sebelum datang kepada Rasulullah, ayah Juwairiyah melihat unta-unta berada di ‘Aqiq. Unta-unta tersebut rencana akan digunakan untuk menebus putrinya dan kaumnya. Karena menyukai dua ekor unta diantara unta-unta yang ada, kemudian ia menyembunyikan dua unta tersebut untuk dirinya sendiri. Ia kemudian menyembunyikan dua unta tersebut di antara lereng-lereng di ‘Aqiq.

Saat mendatangi Rasulullah, ia berkata : “Ya Muhammad, kalian telah mendapatkan anak perempuanku. Inilah sebagai tebusannya”. Lalu Rasulullah bersabda : “Mana dua ekor unta yang kamu sembunyikan di ‘Aqiq di lereng ini dan ini?”. Al-Haarits, ayah Juwairiyah, terkejut ketika Rasulullah tahu dia telah menyembunyikan dua ekor unta. Bahkan ketika tidak ada seorangpun yang tahu tentang itu kecuali atas pemberitahuan Allah Ta’aalaa. Lalu Al-Haarits dan dua anak laki-lakinya (Al-Harits bin Al-Haarits dan ‘Amr bin Al-Haarits) masuk Islam. Diikuti pula dengan keislaman dari kaumnya.

Al-Haarits kemudian menyerahkan tebusan beserta dua unta tersebut, dan Juwairiyah dikembalikan kepada ayahnya. Lalu Juwairiyah masuk Islam dan baik pula keislamannya, lalu Rasulullah meminangnya dan menikahinya dengan mahar empat ratus dirham.

Sebelumnya ia adalah janda dari anak pamannya, yang bernama ‘Abdullah. Dalam riwayat lain ia adalah janda dari Musaafi bin Shafwan Al-Khuza’iy. Musaafi meninggal dunia dalam perang Bani Musthaliq, dimana Juwairiyah juga tertangkap dalam perang tersebut.

Shafiyah binti Huyaiy bin Akhthab

Rasulullah SAW menikahi Shafiyah binti Huyaiy bin Akhthab setelah memboyongnya dari Yahudi Khaibar. Sejak Nabi tiba di Madinah, orang-orang Yahudi Khaibar telah bulat menolak ajakan damai. Kebuntuan tersebut tak dapat didobrak kecuali dengan perang. Pecahlah perang antara umat Islam dengan Yahudi Khaibar yang akhirnya dimenangkan oleh umat Islam.

Dalam perang tersebut Shafiyah telah kehilang seorang suami bernama Kinanah bin Rabi’ bin Abul Huqaiq. Saat menjadi tawanan perang, Rasulullah kemudian menawarkan Shafiyah masuk Islam, kemudian dia setuju masuk Islam. Rasulullah lalu menikahinya (setelah masa iddahnya selesai) pada tahun 5 Hijriyah. Rasulullah menjadikan pembebasan Shafiyah dari tawanan sebagai mahar pernikahannya.

Maimunah binti Al-Haarits bin Hazn

Rasulullah SAW menikahi Maimunah binti Al-Haarits bin Hazn pada tahun 7 Hijriyah. Maimunah merupakan Istri terakhir yang dinikahi oleh Rasulullah SAW. Yang menikahkannya dengan Rasulullah adalah Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, paman dari Rasulullah sendiri.

Maimunah memiliki hubungan dekat dengan Al-‘Abbas dikarenakan ia adalah saudari dari istri Al-‘Abbas, Ummul Fadl. Beliau juga seorang bibi bagi Khalid bin Al-Walid. Sebelumnya, Maimunah merupakan istri dari Abu Ruhm bin Abdul Uzza bin Abu Qais bin Abdu Wud bin Nashr bin Malik bin Hasl bin Amir bin Luay.

Zainab binti Khuzaimah bin Al-Haarits

Rasulullah SAW menikahi Zainab binti Khuzaimah bin Al-Haarits bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Abdi Manaf pada tahun 3 Hijriyah. Beliau adalah istri Rasulullah setelah Hafshah binti ‘Umar bin Al-Khaththab. Beliau disebut sebagai Ummal Masaakiin (Ibunya orang-orang miskin), karena ia sangan belas kasihan kepada mereka. Beliau juga merupakan seorang juru obat atau dokter yang sering mengobati korban peperangan umat muslim.

Yang menikahkan beliau dengan Rasulullah adalah Qabishah bin ‘Amr Al-Hilaaliy. Rasulullah SAW memberikan mahar kepadanya empat ratus dirham. Dalam beberapa sumber beliau menikah dengan Rasulullah pada usia sekitar 29 – 30 tahun.

Sebelumnya beliau adalah janda ‘Ubaidah bin Al-Haarits bin ‘Abdul Muththalib bin ‘Abdi Manaf, dan sebelum itu ia adalah janda Jahm bin ‘Amr bin Al-Haarits, ia adalah anak pamannya Zainab.

Pada beberapa pendapat yang kuat, Zainab binti Khusaimah wafat pada usia 30 tahun. Beberapa bulan setelah menikah dengan Rasulullah SAW.


Itulah wanita-wanita yang pernah dinikahi oleh Rasulullah SAW dan membina rumah tangga dengan beliau, sebanyak sebelas orang, yang meninggal sebelum Rasulullah SAW wafat ada dua oang, yaitu Khadijah binti khuwailid dan Zainab binti Khuzaimah. Rasulullah SAW wafat dengan meninggalkan sembilan istri sebagaimana disebutkan di atas.

Di dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa mahar Rasulullah SAW kepada istri-istri beliau adalah 12,5 uqiyah, yang berarti 500 dirham (1 uqiyah = 40 dirham).


Wanita yang Dinikahi dan Diceraikan sebelum Rasulullah Menggaulinya

Dalam tulisan Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam disebutkan bahwa ada dua wanita yang beliau menikahinya, tetapi beliau belum mengaulinya (lalu beliau menceraikannya), wanita-wanita tersebut yaitu :

Asmaa’ binti Nu’man Al-Kindiyyah

Sebab perceraian Asmaa’ dengan Rasulullah adalah ketika Rasulullah mendapati pada diri Asmaa’ penyakit keputihan. Rasulullah menceraikannya dan memberikan mut’ah kepadanya dan mengembalikannya kepada keluarganya.

‘Amrah binti Yazid Al-Kilaabiyyah

Ketika itu ia baru saja masuk Islam, ketika ia datang kepada Rasulullah SAW ia memohon perlindungan (kepada Allah) dari Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Aku ceraikan kamu karena berlindung kepada Allah”. Lalu beliau mengembalikannya kepada keluarganya.


Wanita yang Menjadi Jariyah, Budak, atau Pembantu Rasulullah

Mariyah binti Syam’un Al-Qibthiyah

Berkenaan dengan status Mariyah binti Syam’un sebagai istri Rasulullah, para ulama memiliki perbedaan pendapat. Ibnu Katsir dalam tulisannya yang berjudul al–Bidayah wa an–Nihayah menggolongkan Mariyah sebagai seorang istri yang memiliki budi luhur. Ibnu Atsir dalam tulisannya yang berjudul Al-Kamil fit Tarikh berpendapat bahwa Mariyah adalah amal jariyah Rasulullah. Sebagian ulama berpendapat bahwa Rasulullah menikahi Rasulullah dengan pembebasannya sebagai budak adalah maharnya. Namun dalam sumber yang lebih awal, yaitu Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah menganggap Mariyah sebagai selir.

Mariyah dan saudarinya bernama Sirin merupakan seorang pembantu atau budak seorang penguasa Mesir, Raja Qibti al-Muqauqis. Kedua orang tuanya merupakan seorang penganut agama Katolik. Ketika Rasulullah mengirimkan surat ajakan untuk memeluk agama Islam, Raja Muqauqis memberikan surat penolakan dengan ramah yang kemudian memberikan Mariyah dan saudarinya kepada Rasulullah sebagai hadiah balasan. Hadiah dan balasan dari Raja Muqauqis sampai kepada Rasulullah pada tahun sekitar 7 Hijriyah.

Rasulullah kemudian memberikan Shirin kepada Hassan bin Tsabit dan mengambil Mariyah untuk dirinya. Mariyah merupakan satu-satunya istri Rasulullah yang melahirkan keturunan selain dari Khadijah. Mariyah melahirkan putra bernama Ibrahim pada tahun 8 Hijriyah. Dan pada usia 20 bulan, Ibrahim jatuh sakit hingga suatu malam Ibrahim dipanggil di sisi Allah SWT.

Lima tahun setelah kematian Ibrahim, Mariyah dikejutkan dengan kematian Rasulullah SAW. Setelah itu, ia bertekad untuk menyendiri dan menujukan hidupnya untuk Allah semata. Pada tahun 15 H, Mariyah dikabarkan wafat dan dishalatkan oleh khalifah Umar bin Al-Khaththab.

Raihanah binti Zaid Al-Quradhiyah

Para perawi hadits berselisih pendapat tentang kehidupan Raihanah. Selain itu, tidak banyak riwayat yang menjelaskan istri Rasulullah yang satu ini. Permasalahan berpusat pada data apakah Rasulullah membebaskannya kemudian menikahinya atau beliau hanya menjadikannya sebagai budak. Menurut Ibnu Atsir di dalam Tarikhnya Al-Kamil fit Tarikh disebutkan bahwa Raihanah adalah seorang budak atau pembantu dan pembebasannya adalah bentuk jariyah dari Rasulullah.

Sebelumnya, Raihanah adalah seorang pemeluk agama Yahudi dari kaum Bani Nadhir. Raihanah adalah istri Al-Hakam dari Bani Quraizhah. Ketika terjadi perang kaum muslimin dengan Bani Quraizhah, Al-Hakam terbunuh dan Raihanan beserta wanita dalam kaumnya dijadikan tawanan perang. Peristiwa ini terjadi pada tahun 6 Hijriyah.

Rasulullah bermaksud menjadikan Raihanah menjadi istrinya, namun Raihanah menolak untuk masuk Islam hingga Rasulullah mulai mengasingkannya. Kemudian Rasulullah mengutus Ibnu Sa’yah untuk meyakinkan Raihanah masuk Islam yang kemudian ajakan tersebut disetujui oleh Raihanah.

Karena status Raihanah sebagai tawanan perang maka sebagian ulama berpendapat bahwa mahar atas pernikahan dengan Rasulullah adalah pembebasan dari status budak tersebut. Namun, sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa Rasulullah memberikan pilihan kepada Raihanah untuk dimerdekakan kemudian dinikahi atau dijadikan hamba sahaya dan digauli sebagai budak. Hingga Raihanah memutuskan untuk memilih menjadi budak milik Rasulullah.

Wallahu A’lam

Jika kita sudah mengenal siapa Ummuhatul Mu’minin, mari mengenal lebih dekat dengan para Cendekiawan Muslim

Referensi :

  • al-Bidayah an-Nihayah – Ibnu Katsir
  • Sirah Nabawiyah – Ibnu Hisyam
  • al-kamil fit Tarikh – Ibnu Atsir
  • Shahih Tarikh Ath-Thabari
  • Islami.co
  • Kisah Muslim