Assalamu’alaikum… Dalam artikel kali ini akan dibahas hanya antara tulang keras dan tulang rawan dan cara membedakannya. Selain itu, disini akan dibahas pengaruh asam cuka terhadap tulang. Les Chek it out…

TUJUAN
1.    Mengetahui letak tulang keras dan tulang rawan
2.    Mengetahui perbedaan tulang keras dan tulang rawan
3.    Mengetahui pengaruh asam cuka terhadap struktur tulang keras

DASAR TEORI
Tulang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tulang rawan (kartilago) dan tulang sejati (osteon). Pembagian jenis tulang tersebut berdasarkan susunan jaringan dan sifat-sifat atau ciri-ciri yang dimilikinya.

Tulang rawan tersusun atas sel-sel tulang rawan yang menghasilkan matriks berupa kondrin. Tulang rawan ini bersifat bingkas dan lentur karena terbentuk dari selaput tulang rawan (perikondrium) yang banyak mengandung sel-sel pembentuk tulang rawan (kondroblas). Jaringan tulang rawan pada anak-anak sel-selnya lebih banyak mengandung sel-sel rawan, sedangkan pada orang dewasa jaringan tulang rawannya telah terisi oleh matriks-matriks tulang. Sebagian besar anak-anak tubuhnya masih terdiri atas tulang rawan, sedangkan pada orang dewasa tulang rawan hanya ditemukan pada beberapa bagian atau lokasi tubuh, seperti pada cuping hidung, cuping telinga, persendian tulang, di antara ruas tulang belakang, antara tulang rusuk dan tulang dada, dan pada cakra epifisis.
(Paket BSE, hal. 79)

Berdasarkan bentuknya, tulang dibedakan menjadi lima macam, yaitu tulang pipa, tulang pipih, tulang pendek, tulang seismoid, dan tulang tidak beraturan. Berikut penjelasan macam tulang berdasarkan bentuknya.

Pertama tulang pipa, tulang ini memiliki bentukbulat panjang seperti pipa. Pada kedua ujung berbonggol. Tulang pipa berongga yang di dalamnya berisi sumsum kunig dan lemak. Sumsum kuning merupakan cadangan untuk pembentukan sumsum merah. Sumsum merah merupakan tempat pembentukan sel darah merah dan sel darah putih. Tulang pipaterbagi menjadi tiga bagian, yaitu epifise, diafise, dan cakra epifise.
a)    Epifise, bagian ujung tulang yang terdiri dari tulang rawan.
b)    Diafise, bagin tengah yang memnjang dan dipusat terisi sumsum tulang pada rongganya.
c)    Cakra epifise, bagian sempit antara epifise dan diafise.

Tulang pipa pada anak-anak, cakra epifise masih berupa tulang rawan yang mengandung osteoblas, sehingga tulang dapat bertambah panjang. Adapun pada orang dewasa, cakra epifise sudah mengalami osifikasi sehingga membentuk tulang keras. Dengan demikian, pertumbuhan tulang pada orang dewasa akan berhenti. Contoh tulang pipa adalah tulang paha, tulang lengan atas, tualang kering, tulang betis, ruas-ruas jari tangan dan jari kaki, tulang hasta, dan tulang pengumpil.

Kedua tulang pipih, tulang pipih berbentuk pipih atau tipis (lempengan), berupa tulang kompak dan tulang spons yang di dalamnya terdapat sumsum merah. Sumsum merah merupakan tempat pembentukan sel darah merah dan sel darah putih. Umumnyatulang pipih menyusun dinding rongga sehingga tulang pipih berfungsi sebagai pelindung. Contoh tulang pipihadalah tulang kepala (tengkorak), tualang rusuk, tulang dada, dan tulang belikat.

Ketiga adalah tulang pendek, tualang ini berbentuk kubus seperti dadu yang pendek dan bulat. Di dalam tulang pendek berisi sumsum merah yang berfungsi sebagai tempat pembentukan sel darah merah dan sel darah putih. Contoh tulang pendek, yaitu ruas-ruas tulang belakang, tulang pergelangan tangan, dan pergelangan kaki.

Keempat adalah tulang seismoid, adalah tulang kecil seperti biji yang terdapat di dalam tendon yang menghubungkan tulang ke otot. Contoh tulang ini adalah tulang patella.

Kelima adalah tulang tidak beraturan, tulang ini mempunyai bentuk tidak menentu. Contoh tulang tidak beraturan, misalnya tulang pada wajah, tulang rahang, pinggul, dan tulang belakang. (Paket Biologi, hal.113)

Tulang keras dapat mengalami osifikasi, yaitu proses pembentukan tulang terutama tulang pipa. Tulang pipa terbagi atas tiga bagian, yaitu bagian ujung (epifise), bagian tengahnya yang tersusun atas tulang keras (diafise), dan diantara epifise dan diafise terdapart cakra epifise, yang terdiri atas tulang rawan dan banyak mengandung osteoblas (calon osteosit). Di dalam tulang pipa terdapat rongga yang terjadi karena aktivitas osteoklas yang berfungsi merombak sel-sel tulang. Di dalam kartilago terdapat rongga yang mengandung osteoblas. (Lks Biologi, hal.27)
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16.7°C.

Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayati. (http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_asetat)

ALAT DAN BAHAN
A.    Alat :
1.    Gelas beker
2.    Cawan petri
3.    Pisau
4.    Pinset
5.    Sarung tangan karet
6.    Kertas tisu
B.    Bahan :
1.    Tulang paha ayam segar
2.    Cangkang telur ayam
3.    Larutan asam cuka

CARA KERJA
1.    Menggunakan sarung tangan untuk membersihkan tulang dari daging yang menempel

2.    Mengamati keadaan struktur tulang tersebut, meliputi kekerasan (dengan cara menekan), kelenturan (dengan cara membengkokkan), dan warnanya

3.    Meletakkan tulang ke dalam gelas beker. Menuangkan larutan asam cuka ke dalam gelas beker hingga tulang terendam dan membiarkan selama 3 hari

4.   Mengamati tulang dengan menggunakan pinset, mencuci tulang dengan air yang mengalir, mengeringkan tulang dengan kertas tisu, dan mletakkan pada cawan petri

5.    Mengamati perubahan keadaan tulang setelah direndam dan mencatat pengamatan ke dalam tabel

6.    Mengisikan hasilnya pada tabel hasil pengamatan.

DATA HASIL PENGAMATAN

ANALISA DATA
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat dianalisa bahwa pada tulang paha ayam dan cangkang telur yang telah direndam dalam air cuka mengalami perubahan dari kondisi sebelum direndam. Pada tulang paha ayam mengalami beberapa prubahan. Yang pertama yaitu yang sangat mencolok adalah perubahan warna. Sebelum direndam dengan air cuka, tulang paha ayam berwarna putih tulang, dan sedikit kemerahan sisa darah yang membuat tulang paha ayam masih terlihat segar. Namun setelah direndam pada air cuka, tulang paha ayam berwarna sangat pucat dan sedikit kekuning-kuningan serta kehitaman. Yang kedua yaitu tulang paha ayam mengalami perubahan dalam tingkat kekerasan. Tingkat kekerasan tulang paha ayam sebelum direndam air cuka sangatlah keras dan kaku, namun setelah direndam air cuka, tingkat kekerasan menurun menjadi lebih lunak serta lembek. Dan perubahan yang ketiga yaitu perubahan kelenturan. Sebelum direndam air cuka, tulang paha ayam tidak lentur sama sekali.

Namun setelah direndam air cuka, tulang paha ayam menjadi lebih lentur dan dapat dibengkokkan. Sedangkan pada percobaan, cangkang telur juga mengalami beberapa perubahan yang hampir sama dengan perubahan yang dialami oleh tulang paha ayam. Yang pertama yaitu perubahan warna. Cangkang telur sebelum direndam air cuka memiliki warna oranye sedikit keclokatan seperti telur pada umumnya, namun setelah direndam dalam air cuka  warnanya menjadi putih serta coklatnya memudar. Yang kedua yaitu perubahan tingkat kekerasan. Sebelum direndam air cuka, cangkang telur memiliki tekstur yang keras, namun setelah direndam air cuka, cangkang telur menjadi lunak serta rapuh, bahkan hancur. Yang ketiga yaitu perubahan dalam tingkat kelenturan. Tingkat kelenturan cangkang telur sebelum direndam yaitu tidak lentur sama sekali dan kaku, namun setelah direndam air cuka cangkang telur menjadi lentur serta rapuh.

Kemudian setelah mengamati perubahan-perubahan yang terjadi pada objek pengamatan, dapat dianalisa pula perbedaan tingkat perubahan pada bagian-bagian objek pengamatan yaitu tulang. Dari segi warna, perubahan dari keadaan sebelum direndam air cuka merata. Yang terdapat perbedaan yaitu dari segi kekerasan dan kelenturan antara bagian tengah tulang(diafise) dengan bagian ujung tulang yang berbentuk seperti bonggol(epifise). Sesudah direndam air cuka, bagian tengah tulang menjadi lunak, namun pada bagian ujung tulang lebih lunak dari bagian tengah tulang. Yang kedua yaitu tingkat kelenturan. Setelah direndam dalam air cuka, pada bagian tengah tulang hanya dapat dibengkokkan sedikit saja, namun pada bagian ujung tulang sangat mudah dibengkokkan.

Berdasarkan data hasil pengamatan dan analisa diatas, dapat disimpulkan bahwa tulang keras terletak dibagian tengah tulang(diafise) sedangkan tulang rawan terletak dibagian ujung tulang(epifise). Dan dapat disimpulkan penyebab-penyebab perubahan yang dialami oleh tulang paha ayam maupun cangkang telur yaitu pengaruh dari asam cuka. Yang pertama, sum-sum tulang menjadi hitam dikarenakan hemoglobin terurai oleh CH3COOH, sebab hemoglobin merupakan protein sehingga gugusnya mengandung NH2 yang ketika bereaksi dengan gugus asam cuka akan berubah warna. Yang kedua yaitu, tulang dan cangkang telur menjadi lebih rapuh dikarenakan asam cuka bersifat korosif yaitu sifat yang menyebabkan benda lain hancur, sehingga ketika tulang direndam dalam air cuka, sel-sel osteosit menjadi terkikis. Yang ketiga, tulang dan cangkang telur yang mengandung kalsium karbonat menjadi lentur dikarenakan asam cuka dapat mengikat kalsium yang terkandung dalam cangkang telur dengan reaksi sebagai berikut :

2CH3COOH + CaCO3 ====>  Ca(CH3COO)2 + H2O + CO2

Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita temukan pula contoh tulang rawan dan tulang keras selain dalam diafise dan epifise tulang paha ayam. Contoh tulang rawan yang lain antara lain batang tenggorok ayam, ujung tulang rusuk yang melekat pada tulang, pada daun telinga, dan lain-lain. Sedangkan contoh tulang keras yang lain yaitu tulang lengan atas, tulang jari-jari, tulang kering, dan lain-lain.

DISKUSI
1.    Perubahan apa yang terjadi pada tulang paha ayam sebelum dan sesudah direndam asam cuka?

Jawab :

       Perubahan yang terjadi adalah perubahan warna, kekerasan dan kelenturan. Sebelum direndam
       dalam larutan asam cuka, tulang paha ayam berwarna putih tulang dan segar. Ketika ditekan
       tulang sangat keras dan kuat, dan terasa kaku saat dibengkokkan. Sedangkan setelah direndam
       dalam larutan asam cuka, tulang paha ayam berubah warna menjadi pucat dan agak kekuning
       kuningan. Saat ditekan tulang menjadi lembek dan lunak, selain itu tulang juga dapat
       dibengkokkan.
2.   Setelah tulang terhadap paha ayam direndam Asam cuka, apakah tulang paha ayam tersebut
      tersebut bisa dibengkokkan? Apakah pengaruh asam cuka terhadap struktur tulang keras?
Jawab :
Ya, setelah direndam dalam larutan asam cuka tulang menjadi dapat dibengkokkan. Asam cuka (CH3COOH) memiliki kecenderungan untuk melarutkan unsur-unsur seperti kalsium (Ca). Jadi kalsium pada tulang semakin sedikit karena terlarut dalam asam (larutan berubah berwarna keruh) dan tulang akan menjadi lentur atau lunak karena kandungan Ca pada tulang yang semakin sedikit.
3.    Sebutkan komponen zat penyusun tulang keras!
Jawab :
Tulang keras tersusun dari osteoblas, osteosit, osteoprogenator, dan osteoklas.

4.    Apakah fungsi zat kapur (kalsium fosfat dan kalsium karbonat) bagi tulang keras?

Jawab :
⦁    Mencegah osteoporosis,
⦁    Membantu proses pembekuan darah dan penyembuhan luka,
⦁    Sebagai komponen penting dalam produksi hormon dan enzim yang mengatur proses pencernaan, energi dan metabolisme lemak,
⦁    Membantu tranpor ion melalui membran,
⦁    Daya tahan tubuh.

5.    Dari manakah tubuh memperoleh zat kapur?

Jawab :
Dari asupan makanan berkalsium, contohnya susu dan suplemen. Selain itu juga dari aktivitas-aktivitas kita sehari-hari, contohnya berjemur dibawah sinar matahari pada pagi hari, dan membatasi penggunaan garam dapur (NaCl) karena mengandung unsur natrium (Na) dan klorida (Cl).
6.    Apa akibatnya jika tubuh kekurangan zat kapur?
Jawab :
Akibat jika tubuh kekurangan zat kapur, akan mengalami beberapa gangguan sebagai berikut :
⦁    Gangguan pertumbuhan,
⦁    Tulang kurang kuat, mudah bengkok dan rapuh,
⦁    Kekejangan otot,
⦁    Banyak menimbulkan penyakit, seperti osteoporosis (tulang keropos), kehilangan massa dan kepadatan tulang hingga menjadi rapuh,
⦁    Hipoparatiroidisme, yaitu kekurangan produksi hormon paratiroid atau parathyroid hormone (PTH) pada tubuh,
⦁    Sindrom Prahaid, yaitu gejala emosi, psikologis dan fisik ketika wanita menstruasi
⦁    Rakhitis, yaitu pelunakan dan melemahnya tulang pada anak-anak hingga gamapang mengalami patah dan kelainan bentuk tulang.

KESIMPULAN

1.    Tulang keras terletak dibagian tengah tulang (diafise), dan tulang rawan terletak dibagian ujung tulang (epifise).

2.    Sebelum direndam larutan asam cuka tulang keras bersifat keras, kuat, dan kaku. Sedangkan tulang rawan bersifat lentur dan elastis.

3.    Pengaruhnya yaitu tulang mengalami perubahan kelenturan karena reaksi berikut :
2CH3COOH + CaCO3 ===> Ca(CH3COO)2 + H2O + CO2

Jadi kalsium pada tulang semakin sedikit karena larut dalam larutan asam. Maka pada kondisi tertentu tulang akan menjadi lentur atau lunak karena komposisi kalsium (Ca) pada tulang sudah menurun drastis.

DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar, Suaha.2011.Biologi

Sekian artikel kali ini… Jika ada yang ingin memberikan masukan dan saran silahkan menulis komentar anda… Assalamu’alaikum…