Assalamu’alaikum Wr. Wb. Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmatnya kepada kita semua. Pada kesemptan kali ini saya akan menyampaikan amalan shalat sunnah yang dapat kita memanfaatkan untuk menambah amalan kita dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Langung aja silahkan menyimak artikel berikut ini:

A.     Shalat sunnah rawatib yang muakkadah

Shalat sunnah rowatib ialah shalat sunnah yang dikerjakan sebelum (qobliyah) atau sesudah (ba’diyah) shalat lima waktu. Sedang yang dimaksud Muakkadah ialah yang sangat ditekankan atau dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Shalat-shalat tersebut adalah :
1.         Dua atau empat raka’at sebelum shalat Dhuhur
2.         Dua raka’at sesudah shalat Dhuhur
3.         Dua raka’at sesudah shalat Maghrib
4.         Dua raka’at sesudah shalat ‘Isya
5.         Dua raka’at sebelum shalat Shubuh.
Dalil-dalil pelaksanaannya :

Dari Ibnu Umar RA, ia berkata, “Saya hafal (ingat dengan betul) dari Nabi SAW sepuluh raka’at shalat sunnah; dua raka’at sebelum shalat Dhuhur dan dua raka’at sesudahnya, dan dua raka’at sesudah Maghrib di rumah beliau dan dua raka’at sesudah ‘Isya di rumah pula dan juga dua raka’at sebelum shalat Shubuh’”. [HR. Bukhari juz 2, hal. 54]

Dari ‘Aisyah RA bahwa Nabi SAW tidak meninggalkan empat raka’at sebelum shalat Dhuhur dan dua raka’at sebelum Shubuh. [HR. Bukhari juz 2, hal. 54]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Tidak ada Nabi SAW memperhatikan shalat-shalat Sunnah lebih dari pada dua raka’at Fajar”. [HR. Bukhari juz 2, hal. 52]

Dari Hafshah, ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW apabila terbit Fajar, beliau tidak shalat melainkan dua raka’at yang ringan”. [HR Muslim juz 1, hal. 500]

Keutamaan shalat sunnah :
Dari Ummu Habibah istri Nabi SAW, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Tiada orang Muslim yang setiap hari shalat Sunnah dua belas raka’at karena Allah, melainkan Allah akan membuatkan baginya rumah di surga atau dibuatkan rumah baginya di surga”. [HR. Muslim juz 1, hal. 503]

Artikel Terkait : Shalat Sunnah Jilid 2

B.     Shalat sunnah rawatib yang tidak muakkadah
1.         Dua raka’at sebelum shalat Maghrib
2.         Dua raka’at sesudah (Ba’diyah) Dhuhur
3.         Shalat sunnah sebelum ‘Ashar
4.         Shalat sunnah sesudah ‘Ashar

Dalil-dalil pelaksanaanya :

Dari Abdullah (bin Mughoffal) Al Muzaniy, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Shalatlah Qabliyah Maghrib”. Dan beliau bersabda yang ketiga kalinya, “Bagi siapa yang mau”. Karena beliau tidak suka orang menjadikannya suatu keharusan. [HR. Bukhari juz 2, hal. 54]

Dari ‘Anbasah bin Abu Sufyan, ia berkata, aku mendengar saudara perempuanku Ummu Habibah istri Nabi SAW, berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa tetap mengerjakan empat raka’at sebelum Dhuhur dan empat raka’at sesudah Dhuhur, niscaya Allah mengharamkan dia masuk neraka”. [HR. Tirmidzi juz 1, hal. 269]
Keterangan :
Shalat sunnah sesudah Dhuhur (Ba’diyah Dhuhur) itu empat raka’at, dua raka’at Muakkadah dan dua raka’at yang lain tidak Muakkadah.

Dari Ibnu ‘Umar RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Semoga Allah merahmati orang yang mengerjakan shalat sunnah empat raka’at sebelum ‘Ashar”. [HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan ia menghasankannya, dan Ibnu Khuzaimah, dan ia menshahihkannya, dalam Bulughul Maram no. 382]

Keterangan :
Hadits tentang shalat sunnah qabliyah ‘Ashar empat raka’at ini ada ulama yang menganggap hasan atau mengesahkannya. Namun ada pula yang melemahkannya. Bahkan Ibnu Taimiyah menolaknya dengan keras dan menganggap hadits itu maudlu’, walloohu a’lam. [Zaadul Ma’aad juz 1, hal. 311]

Dari Ummu Salamah RA, ia berkata : Nabi SAW pernah shalat dua raka’at sesudah ‘Ashar, lalu beliau bersabda, “Orang-orang dari suku ‘Abdul Qais telah menyibukkan aku dari shalat dua raka’at sesudah Dhuhur”. [HR. Bukhari 1 : 146]

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW melarang shalat ba’da ‘Ashar sehingga terbenam matahari, dan melarang shalat ba’da Shubuh sehingga terbit matahari. [HR. Muslim 1 : 566, Bukhari 1 : 146]
Kesimpulan :

1. Nabi SAW pernah melarang shalat sesudah shalat ‘Ashar.

2. Nabi SAW mengerjakan dua raka’at sesudah ‘Ashar pada mulanya sebagai ganti dua raka’at sesudah Dhuhur yang tidak sempat beliau kerjakan, kemudian shalat dua raka’at sesudah ‘Ashar tersebut menjadi kebiasaan beliau yang tidak pernah beliau tinggalkan.

C.     Shalat sunnah tahiyyatul masjid

Dari Abu Qatadah RA, ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Apabila seseorang diantara kalian masuk masjid, maka janganlah ia duduk sebelum shalat dua raka’at”. [HSR. Bukhari juz 2, hal. 51]

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata : Sulaik Al-Ghathafaaniy datang ke masjid pada hari Jum’at lalu duduk, pada waktu itu Rasulullah SAW sedang berkhutbah. Lalu beliau bersabda, “Hai Sulaik, berdirilah, shalatlah 2 rekaat, dan ringankanlah”. Kemudian beliau bersabda lagi, “Apabila seseorang diantara kalian datang (ke masjid) pada hari Jum’at, dan ketika itu imam sedang berkhutbah, maka hendaklah ia shalat dua raka’at dengan ringan”. [HSR. Muslim juz 2, hal. 597]

Sekian dahulu ya, artikel akan dilanjutkan pada halaman berikutnya…

Artikel Terkait : Shalat Sunnah Jilid 3